Lagi-lagi ini untuk
dia. Pikiranku masih belum bisa lepas jauh dari
dia. Mudah-mudahan tak akan lepas dan tak 'kan jauh terhempas. Memang berjalan belum lama, baru seumur jagung, barusan,
sektas (kata orang jawa)
. Meski baru, tapi nyala panasnya serasa sudah lama membakar, membakar kita berdua. Panas, tertantang, dan terbakar.
Merasa selalu tertantang untuk mendekap dan mengucup apa dibalik hati dan pikiran
nya, tertantang mengimbangi dan menemani lembut indah laku
nya, tertantang untuk mencukupi apa yang diinginkan
nya. Singkatnya, menarik seluruh aku. Tinggi. Berat. Susah. Waktu. Semuanya itu pasti, bila tidak semua tak berarti bagiku. Marah. Keluh. Ambisi. Itu juga mewarnai, tapi
dia selalu menyentuhku hingga dingin -beku- lalu panas dan terbakar lagi. Bersama pesan terbakar itu, selama aku begini, aku minta :
Jangan Tunduk! Tentang aku dengan berani. Mungkin selama jalan aku berbalut hitam tanpa sadar hingga membalik 180 derajat tipis senyum
nya. Siram juga aku mau, biar panas bisa kurasa, biar tidak hilang bentuk remuk.
Jangan salahkan aku, bila kudekap. Selama jalan, lari, dan terbang. Jangan pedulikan waktu. Sekali lagi,
Jangan Tunduk! Tentang aku dengan berani.
Salam sayang,
thank you for every moment spent with you. The road is still long, dear.
Tunggu aku di Jakarta, nanti.